SEARCH BLOG Cherries ini (^__^)

Sunday, February 28, 2010

Cheongsam atau Chi Pao


Cheongsam adalah pakaian wanita 1 piece dengan corak bangsa Tionghoa dan menikmati kesuksesan dalam dunia busana internasional. Dalam bahasa Mandarin dikenal juga dengan qípáo (旗袍), qípáor (旗袍儿), ch’i-p’ao. Baju gaya dan kadang-kadang ketat ini dahulu dibuat tahun 1920 di Shanghai dan dibuat oleh wanita dengan kelas sosial yang tinggi.

Nama “Cheongsam” berarti “pakaian panjang”, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dari dialek Propinsi Guangdong (Canton) di Tiongkok. Pada daerah lain, termasuk Beijing, dikenal dengan nama “Qipao”, yang terdapat asal usul dibelakangnya.

Pada awal bangsa Manchu (Dinasti Qing) menguasai Tiongkok, mereka mengorganisasi rakyat, terutama bangsa Manchu, ke dalam “panji” (qi) dan disebut “rakyat panji” (qiren), yang lalu menjadi sebutan bagi seluruh bangsa Manchu. Wanita bangsa Manchu mengenakan pakaian yang lalu dinamakan “qipao” atau “pakaian panji”. Revolusi tahun A.D. 1911 menggulingkan kekuasaan bangsa Manchu, namun kebiasaan pakaian wanita bangsa Manchu tetap bertahan, kemudian dikembangkan dan menjadi pakaian tradisional wanita bangsa Cina.

Mudah dikenakan dan nyaman, bentuk pakaian Cheongsam cocok dengan bentuk tubuh wanita bangsa Tionghoa. Leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengan baju bisa pendek, sedang atau panjang, tergantung musim dan selera. Memiliki kancing di sisi kanan, bagian dada longgar, selayak di pinggang, dan dibelah dari sisi, yang kesemuanya semakin menonjolkan kecantikan dari wanita yang mengenakannya.

Cheongsam tidak terlalu sudah dibuat. Tidak pula memiliki banyak perlengkapan, seperti sabuk, atau selendang.

Kecantikan lain dari Cheongsam adalah dapat dibuat dari berbagai macam bahan dan memiliki keragaman panjang, dapat digunakan secara santai atau resmi. Juga menampilkan kesederhanaan dan keanggunan, kemewahan dan kerapian. Tidak mengherankan banyak disukai oleh wanita, tidak hanya di Tiongkok namun juga di negara-negara lain di dunia.



Source:
http://indocina.wordpress.com/2009/11/17/cheongsam/

Lontong Cap Go Meh



Apa itu Cap Go Meh dan apa makna di balik perayaannya?

Ternyata, tidak semua warga Suku Tionghoa yang notabene menjalani tradisi ini tahu jawabannya. Rata-rata mereka hanya mengatakan ini adalah tradisi turun-temurun untuk merayakan tahun baru.

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir perayaan Imlek bagi Etnik Tionghoa. Istilah ini berasal dari dialek bahasa Hokkien/Hokkien. Secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.

Hal ini diungkapkan Sekretaris II Yayasan Klenteng Ibu Agung Bahari, Sugeng Surianto, kepada Upeks, Kamis (22/2). "Perayaan ini merupakan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang kita. Dalam perayaan dilakukan sembahyang bersama memanjatkan doa kepada Dewa Dewi," tambah Sugeng.

Cap Go Meh juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru Imlek. Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan.
Seperti di Taiwan dirayakan Festival Lampion, di Asia Tenggara dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut. Suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia. (mg03/suk/C)

Source:
http://www.indocina.net/viewtopic.php?f=2&t=35727&start=0

Cap Go Meh 2010


PRJ Gelar Cap Go Meh Festival

Dalam rangka ikut memeriahkan Perayaan Tahun Baru Imlek 2010 nanti, pengelola Jakarta International (JI) Expo telah menjadwal program Cap Go Meh Festival di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 26-28 Februari 2010. Acara yang sudah kali kelima ini berisi pameran produk pernak-pernik Imlek bagi warga Tionghoa dan produk dari industri kecil, seperti makanan minuman, multi product, dan sejenisnya.

Manajer Promosi PT JI Expo, Silvia Hartono mengatakan, pada program Cap Go Meh Festival tahun ini akan memberlakukan sistem tiket sebesar Rp 5000. Sebenarnya harga tiket ini hanya untuk mendapatkan data besarnya jumlah pengunjung. Sedangkan target jumlah pengunjung selama pelaksanaan Cap Go Meh Festival diharapkan mencapai 20-25 ribuan.

”Pemberlakukan harga tiket masuk ini, murni untuk memantau jumlah pengunjung dan respon terhadap program ini. Karenanya, tiket ini pun diberi konpensasi berupa hadiah langsung yang bisa memilih sendiri. Caranya, tukarkan tiket kepada petugas di lokasi pohon angpau berasda. Kemudian pengunjung dipersilakan memetik pohon angpau sesuai seleranya. Jumlah hadiah di pohon angpau cukup banyak atau mencapai ribuan,” ujar Silvia Hartono, Manager Promosi PT JI Expo pada acara gathering dengan wartawan Balaikota DKI di Kebon Sirih, Jakarta, kemarin.


Pohon angpau ini, lanjut Silvia, di sebar pada dua titik di area permainan anak dan di tengah-tengah lokasi pameran Cap Go Meh Festival. Setiap titik terdapat lima pohon angpau. Selain itu ada beberapa pohon angpau yang di luar dua titik itu. Tapi tidak permanen letaknya. Makanya, lebih dari 10 pohon angpau nantinya. (ers)


Source:
http://www.jiexpo.com/jiexpo/CAPGOMEH/prjcapgomeh1.html